Jika ke Kota Kediri siapapun akan bertanya apa oleh-oleh khasnya, dan jawabnya adalah tahu takwa dan getuk pisang. Namun apakah anda tahu jika untuk mengenyangkan perut ada yang selalu menjadi "jujukan" orang luar kota ke Kota Kediri, jawabnya adalah Sate Siboen.
Nama Siboen diambil dari pendirinya adalah Pak Siboen, yang terletak di Jalan Panglima Sudirman 134 Kota Kediri. Sejarah panjang tentang sate Siboen yang dirintis sejak tahun 1939 inilah yang menjadikan sate khas Ponorogo ini cukup terkenal di Kediri.
Kalau tidak percaya, silakan datang ke sate Siboen yang memiliki bumbu khas dengan sambal kacangnya yang tiada duanya. Anda akan mendapati foto-foto artis hingga tokoh politik nasional berjajar di dinding ruang utamanya.
Awal dibukaya sate Siboen bukannya di Kota Kediri, melainkan di kota asalnya Ponorogo tahun 1939. Karena pada saat tahun tersebut secara ekonomi kurang menguntungkan untuk berdagang, Pak Siboen keluar dari Ponorogo pada tahun 1952 dan pindah ke Kota Blitar.
Selain berjualan sate, Pak Siboen pernah juga sebagai "pekatik" penggembala kuda milik orang kaya di Blitar hingga tahun 1953. Pada tahun yang sama Pak Siboen sempat juga mengadu peruntungan ke Tulungagung Jawa Timur dengan berjualan yang sama yakni berdagang sate ayam.
Empat tahun di Tulungagung Pak Siboen kemudian pindah ke Kota Kediri dengan berjualan keliling dengan menggunakan pikulan. Di Kota Kediri ia mencoba perutungan dengan berjualan sate dengan menggunakan pikulan di Jalan stasiun.
Karena rasanya yang khas ditambah bertambahnya pelanggan, Pak Siboen pindah berjualan di emperan Toko Tornado di Jalan Panglima Sudirman.
Dengan ketekunan dan usahannya yang luar biasa akhirnya membuahkan hasil. Pak Siboen akhirnya mampu membeli sebidang tanah dan didirikan warung sate Siboen yang berdiri hingga sekarang yang lokasinya berada di sebelah selatan jantung Kota Kediri.
Kesuksesan dalam merintis usaha, ini juga berkat bantuan saudara-saudaranya untuk melayani pelanggan antara Kartosenen, Tumiran, Misirah dan Ibu Bibit. Pemberdayaan saudara-saudara Pak Siboen ini mengambil filosofi Jawa yakni "Mangan gak mangan sing penting kumpul."
Seiring berjalannya waktu, sate Pak Siboen semakin berkembang hingga dibukanya cabang sate Siboen oleh saudara-saudaranya yang pernah membantunya dengan merek dagang yang sama, Sate Ponorogo Pak Siboen.
Sekarang, sate Ponorogo Pak Siboen tersebar di berbagai kota. Begitu panjang sejarah kesuksesan sate ayam Ponorogo, ternyata kesuksesan itu bukan diraih dengan sekejap, perlu ketekunan dan kesabaran sehingga apa yang diraihnya akan langgeng.
Terbukti sate Ayam Pak Siboen yang dikelola oleh generasi ke-3 hingga sekarang tetap Berjaya. Tidak tanggung-tanggung mulai beberapa tahun belakangan sate Siboen buka 24 jam.
Penataan manajemen yang baik serta pengembangan produksi sampai pengemasan akhirnya membawa sate Siboen semakin terkenal, dan kini di waralabakan.
Judul : Sate Pak Siboen, langganan para Artis dan pejabat
Sumber : merdeka.com

0 Response to "Sate Pak Siboen, langganan para Artis dan pejabat"
Post a Comment